Indonesia menjadi salah satu dari lima penghasil limbah plastik terbesar di samudra. Indonesia memproduksi 64 juta ton sampah setiap tahun, yang 14% (9 juta) diantaranya terdiri dari sampah plastik dan 3,6% nya sampai ke lautan dunia. Banyak penelitian menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi pencemar laut terbesar kedua di dunia, dan menyumbang sekitar 1,3 juta ton sampah per tahun ke perairan. Sampai saat ini, 5, 25 triliun sampah plastik masih berkeliaran di lautan bebas dan volume dari sampah-sampah yang mengapung dilautan bebas hampir setara dengan seluruh pulau-pulau besar di Indonesia.

“Sampah adalah masalah serius. Sampah/kotoran mewujudkan entitas yang dapat mengancam ketertiban,dan hal itu mewakili gangguan sosial. Dunia yang tidak teratur akan  melambangkan bahaya” penjelasan Prof. Judith Schelehe saat menjadi Keynote Speaker Diskusi Publik terbatas Program Pascasarjana UMY pada Kamis (20/9) pagi, di Ruang Sidang Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Bahaya tidak hanya terkait apa yang dilakukan manusia terhadap sampah, namun juga apa yang telah dilakukan sampah terhadap lingkungan dan bagi kita semua. Selain itu, bahaya-bahaya tersebut seringkali berawal dari kebiasaan sehari-sehari seperti membakar sampah yang sebenarnya akan menimbulkan berbagai penyakit di lingkungan kita.

“Tanpa disadari, simbol plastik sudah menjadi gaya hidup di Indonesia. Persepsi modernitas  seringkali mengabaikan bahaya dari produksi. Hampir disetiap acara, kita terus-terusan menambah sampah plastik yang telah menjadi budaya kita” kata Dr. Ita Yuliato saat menjadi Keynote Speaker Diskusi Publik menambahkan.

Padahal, sampah plastik dapat diminimalisir dengan menggunakan bahan tradisional. Misalnya berupa bungkus snack acara yang bermula plastik dapat diubah menjadi daun pisang dan sejenisnya. Sehingga, tidak hanya memanfaatkan alam tapi kita juga merasa bagian darinya.

Banyak cara untuk melestarikan lingkungan dalam dimensi keagamaan. Misalnya adalah membuat program Dakwah Peduli Lingkungan atau slogan-slogan berisi moral untuk tidak meracuni alam. Disamping itu, masih diperlukannya kesadaran-kesadaran pada masyarakat mengenai pelestarian lingkungan, agama serta kebudayaan.

Meskipun sampah tidak bisa dihabiskan keseluruhannya, tetapi kita sebagai masyarakat  masih bisa mengurangi sampah dan mengoptimalkan bank sampah yang merupakan wujud cinta kita pada alam. Selain itu juga kita bisa membuat kreativitas  yang berasal dari sampah yang masih bisa diolah.

“Harapannya, sampah bisa dikelola dengan baik melalui JPSM (Jejaring Pengelolaan Sampah Mandiri) dan menghasilkan sesuatu produk melalui bank sampah yang memiliki nilai ekonomis serta bisa dimanfaatkan oleh pengepul” kata Suharto, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul.

Prof. Judith juga menambahkan  bahwasanya “Kita butuh kesadaran masyarakat mandiri & pemerintah untuk bertanggungjawab mengelola sampah dan melestarikan lingkungan. Jika management dan goverment lingkungan baik, maka rakyat pun akan nyaman.”