Inner Capacity Memiliki Peran Spesifik dalam Pengembangan Diri Manusia

Dilihat dari segi psikologi, untuk mengembangkan kapasitas diri manusia selalu dikaitkan dengan kemampuan fisik dan akal manusia. Sehingga akal dan ilmu pengetahuan menjadi tolok ukur tertinggi dalam mengkualifikasikan kualitas pada diri setiap individu. Namun dewasa ini, penelitian membuktikan bahwa inner capacity merupakan faktor penting selain faktor fisik dan akal, dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Hal tersebut dijelaskan oleh Prof. Dr. Azhar Arsyad, M.A., Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, dalam Kuliah Umum di Amphiteater Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  pada Selasa (02/05). Kuliah umum yang bertajuk “Peranan Inner Capacity dalam Membangun Peradaban Universal” tersebut diselenggarakan oleh Program Pascasarjana UMY bekerjasama dengan Program Studi Doktor Psikologi Pendidikan Islam, Doktor Politik Islam dan Magister Studi Islam

Prof. Azhar menjelaskan bahwa selama ini dunia barat selalu menimbang SDMnya dengan menggunakan dua faktor saja. “Barat selalu mengukur menggunakan akal fikiran dan juga fisik saja. Namun dalam Islam, kita juga harus mempertimbangkan inner capacity. Yang dimaksud dengan inner capacity sendiri adalah ruh atau kemampuan yang paling dalam. Ruh sendiri akan mampu mengendalikan perilaku seseorang,” jelas Azhar.

Dalam melakukan penelitian, ilmuwan Islam disebutkan Prof. Azhar selalu menggunakan metode rasional dan intuitif, di samping metode observasi. “Berbeda dengan ilmuwan Barat, ilmuwan Muslim mengakui keabsahan bukan hanya dengan metode observasi, tetapi juga metode rasional dan intuitif. Dengan kata lain, bukan hanya mengakui persepsi indrawi dalam proses pengetahuan , tetapi juga nalar akal dan persepsi kalbu, seperti ruh, iman, dan kitab,” terang Prof. Azhar.

Prof. Azhar menambahkan, selain metode indrawi dan rasional, sarjana-sarjana Muslim juga mengakui metode lain untuk menangkap obyek-obyek spiritual dan metafisik. “Yaitu mereka menggunakan metode intuitif atau eksperiensial atau dzauqi, seperti yang dikembangkan oleh para sufi atau mistikus Muslim, dan filosof illuminasionis atau yang biasa disebut isyaroqiyun. Walaupun sama-sama menangkap obyek-obyek spiritual, namun akal dan intuisi mempunyai perbedaan metodologis yang fundamental dalam menangkap obyek-obyek tersebut. Sebab sementara akal menangkapnya secara interensial, intuisi menangkap obyek-obyek spiritual tersebut secara langsung, sehingga mampu melintasi jurang pemisah antara subyek dan obyek,” terang Prof. Azhar.

Konsep ini, ditambahkan Prof. Azhar, juga diterapkan dalam dunia pendidikan. “Dalam bidang pendidikan, kita tidak hanya menggunakan akal fikiran saja. Bukan hanya dengan aqli, tetapi juga naqli. Jadi pada intinya, ilmuwan Muslim menggunakan tiga perangkat dalam penelitian, yakni panca indera, akal dan intelek, dan juga intuisi,” tutup Prof. Azhar. (Evan-PPI)

[ssba]

Pendaftaran Mahasiswa Baru

© 2015 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY