Diberitakan melalui laman resmi Doktor Politik Islam, Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mantap melangkah di kancah Internasional dan terus mengadakan kerjasama pada Universitas terkemuka. Dr. Hasse Jubba, MA, sekretaris Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu politik UMY mengunjungi salah satu universitas tertua yang terletak di jantung kota Yangon, ibu kota Myanmar yaitu University of Yangon (26/8).

Kunjungan ini dilakukan selain untuk mempromosikan program studi, juga melakukan penjajakan untuk kolaborasi riset, joint publication, dan menawarkan program bagi mahasiswa asing. Kunjungan ini dilakukan di Faculty of Science Department of Anthropology yang memiliki fokus kajian pada isu-isu minority studies, peace building, development studies, and isu-isu kawasan strategis lainnya. Professor Mya Mya Khin, sebagai head of department, menerima kunjungan di kantornya pada sore waktu Yangon bersama dosen-dosen lainnya.

Pada diskusi yang dilakukan selama kurang lebih 2 jam, disampaikan bahwa saat ini program studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik UMY sedang mengembangkan beberapa kajian yang juga merespons isu-isu kawasan di Asia Tenggara termasuk isu perdamaian, radikalisme, terorisme, intoleransi, dan dialog antar etnis dan agama. Pihak University of Yangon merespon baik kunjungan ini dan sangat antusias untuk melakukan beberapa kolaborasi yang diawali pada tingkat faculty members. Dalam pertemuan ini juga dibicarakan adanya program awal berupa joint research and publication di dua perguruan tinggi (University of Yangon dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Satu hal yang menarik di Universitas Yangon adalah akomodasi terhadap Muslim sangat tampak. Pada Department of Anthropology, salah satu dosennya berasal dari kalangan Muslim.

Pada hari kedua, Dr. Hasse Jubba, MA juga melakukan research sharing kepada dosen-dosen Department of Anthropology (27/8). Dalam forum tersebut, disampaikan kondisi terkini Indonesia khususnya menyangkut hubungan Islam dan kelompok-kelompok minoritas. Para dosen sangat tertarik mengetahui tentang peran Islam sebagai populasi agama mayoritas di Indonesia. Melalui kesempatan ini, disampaikan kepada mereka bahwa meskipun di Indonesia Muslim menjadi mayoritas, tetapi tetap ada akomodasi kepentingan terhadap kelompok (agama) minoritas termasuk memberikan ruang untuk berkiprah di tingkat universitas dan pemerintahan.

Kesempatan ini juga, digunakan sekaligus untuk mempertanyakan bagaimana akomodasi dan sikap Buddis sebagai kelompok mayoritas di Myanmar terhadap Muslim. Menurut mereka, di level akademik perguruan tinggi hampir tidak ada masalah, namun di level praktis masyarakat masih ditemukan praktik-praktik yang tidak akomodatif. Isu ini menjadi salah satu topik yang akan direspons pada joint research dan publication ke depan.