Islam saat ini telah menghadapi berbagai masalah yang menyebabkan krisis diantara umatnya sendiri. Saat ini Islam menjadi peringkat terendah di dunia dalam hal kesejahteraan. Statistik menunjukkan kenyataan bahwa Negara terkaya ada di dunia islam, namun dalam saat yang sama Negara termiskin juga ada di dunia Islam. Hal ini menjadi kontradiksi dimana sebenarnya Islam mempunyai kekuatan. Statistik menunjukkan Islam akan menjadi umat terbesar di dunia pada tahun 2030. Hal ini didukung dengan data dalam dekade terakhir bahwa tingkat pertumbuhan umat Islam di dunia mencapai 235% (The Almanac Book of Facts, 2011). Juga didukung oleh data bahwa pemeluk Islam paling banyak ada di tingkat pemuda yaitu usia 0 hingga 29 tahun mencapai 68,4 %.

Hal ini disampaikan oleh Syed Muhd Khaeirudin Aljunied dari National University of Singapore dalam kuliah umum bertajuk “The Crisis of The Muslim World and Our Roles as Scholar-Activist” yang diselenggarakan oleh Program Studi Doktor Psikologi Pendidikan Islam dan S1 Pendidikan Agama Islam bertempat di Ruang Sidang Direktur Gedung Pascasarjana UMY lt.1, Senin (19/12). Kontradiksi tersebut menyebabkan Islam mengalami keterbelakangan dan krisis. Menurut Khaeirudin, Islam mengalami keterbelakangan saat ini karena berbagai faktor. Pertama bahwa umat Islam buta sejarah. “Sebuah komunitas yang tidak tahu sejarah adalah komunitas yang tidak memiliki identitas. Tidak ada identitas yang terpatri di dalam dirinya,”tuturnya mengutip ungkapan dari Malcolm X.

“Saat ini Islam juga dilanda permasalahan materialism. Umat Islam lebih cinta dunia. Sebagai contoh, kita lihat orang Melayu saja di Indonesia atau Singapura ketika ditanya benda apa yang paling besar yang ada di rumah, mereka akan menjawab mobil, televisi, kulkas dan lain-lain. Berbeda dengan orang Eropa, benda yang paling besar yang ada di rumah mereka yaitu rak buku. Pantas saja kita tertinggal dengan Eropa. Kita berpatokan pada barang mewah, sementara orang Eropa pada pengetahuan,”tambah Khaerudin.

Khaerudin menilai bahwa sudah saatnya umat Islam bangkit dan keluar dari masalah tersebut. Caranya, umat Islam harus kembali berinteraksi dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. “Bukan hanya dibaca saja, tetapi mengambil prinsip-prinsip universal dan pemikiran-pemikiran yang lebih mendalam. Umat Islam harus berpikir universal, lebih luas, bukan hanya berpikir untuk diri kita atau agama kita saja. Karena Islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta,”imbuhnya.

Khaeirudin juga menyerukan bahwa Umat Islam butuh budaya berdebat dan diskusi yang penuh sikap saling menghormati. Pasalnya dalam umat Islam ketika dikritik, pasti diambil hati dan dianggap membenci dirinya. “Budaya kita, saat berdiskusi, ketika dikritik akan dianggap membenci dirinya. Hal ini yang harus kita pelajari bahwa ada perbedaan antara idea dan personalities. Kita harus meluaskan hati untuk menerima kritik. Oleh karena itu, kita butuh menanamkan culture berdebat dan berdiskusi yang baik,”ujarnya. (bagas)