UMY Akselarasi Pengembangan Karir Dosen

Agustus 14, 2017 oleh : superadmin-pa

UMY kembali mengadakan Simposium Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Karir Dosen pada Sabtu (5/8) di Gedung Fachrudin lantai 5. Acara tersebut diikuti para dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang bertujuan untuk berdiskusi serta mendorong para dosen untuk meningkatkan kualitasnya melalui karya-karya ilmiah. Selain itu dalam acara Simposium ini sekaligus diberikan Penganugrahan Guru Besar kepada Prof. Dr. Achmad Nurmandi, sebagai profesor pertama pada Program Studi Ilmu Pemerintahan

Dalam Sambutannya Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyampaikan bahwa kegiatan simposium diselanggarakan untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana pengembangan dosen dalam rangka untuk meningkatkan kualitas dosen. “Dalam meningkatkan kualitas para dosen salah satunya mendukung untuk studi lanjut ke jenjang S3. Di UMY sendiri total dosen yang akan melaksanakan studi lanjut ada 111 orang. Pihak universitas telah memberikan beasiswa internal kepada 88 dosen, dan 23 dosen lainnya mendapatkan beasiswa dari eksternal kampus. Tahun lalu sumbangsih gelar Doktor banyak diraih oleh beberapa dosen di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY sehingga hal tersebut bisa menjadi dorongan bagi para dosen untuk meningkatkan kualitasnya dengan meneruskan pendidikan jenjang selanjutntya. Untuk itu kami dari Universitas melalui Biro Sumber Daya Manusia telah melakukan akselerasi secara perlahan untuk terus mengembangkan karir para dosen dilingkungan UMY. Maka saya mengharapkan kepada para dosen untuk bisa bekerjasama dalam memajukan UMY,” ujar Gunawan.

Hal senada juga disampaikan Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Dr. Ir. Bambang Supriyadi, DEA. Ia menuturkan, perguruan tinggi tidak akan maju jika tidak didukung oleh dosen atau pihak-pihak di dalamnya. “Saat ini Perguruan Tinggi maupun dosen harus berfikir bagaimana caranya untuk melampaui standar Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Institusi. Jika standar ini sudah terpenuhi maka kulitas perguruan tinggi dan dosen akan diperhitungkan. Pada tahun-tahun yang sebelumnya dosen hanya berfokus kepada pendidikan dan mengajar, sehingga hal ini akan berdampak pada kurangnya riset atau penelitian yang mestinya hal tersebut harus dilakukan oleh para dosen. Untuk itu sekarang pemerintah secara perlahan akan membenahi dan mengontrol beban mengajar para dosen. Adapun dosen yang telah menempuh jenjang S2 bisa mengajukan menjadi Lektor Kepala, akan tetapi harus publikasi jurnal internasional. Tidak hanya itu masing-masing perguruan tinggi harus fokus terhadap pengembangan sumber daya manusia di lingkungan institusi seperti menentukan analisis kapan rekrutmen, kesenjangan dosen dan pensiun,” papar Bambang.

Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc.,Ph.D. Selaku Direktur Jendral Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (IPTEK KEMENRISTEK DIKTI) juga menyampaikan bahwa perguruan tinggi juga harus fokus terhadap pengembangan karakter. “Profesi dosen selain mengemban amanah untuk mengajar, secara tidak langsung harus bisa melaksanakan Tri Dharma bahkan Catur Dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Tri Dharma ini bukan hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa. Tapi seluruh dosen (pendidik), serta orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran (sivitas akademika) memiliki tanggung jawab yang sama. Sehingga hal tersebut akan terwujud jika para dosen mengajukan publikasi karya ilmiah. Maka sebetulnya kita harus melakukan perubahan yang mendasar seperti pengembangan karakter dari masing-masing dosen. Dari sanalah akan terbangun sumber daya pengajar dalam meningkatkan kualitas atau pengembangan baik melalui karya ilmiah, penelitian dan lain sebagainya. Akan tetapi kami dari Dikti tentunya butuh kerjasama baik dari Kopertis wilayah dan perguruan tinggi untuk mendukung para dosen agar membuat karya ilmiah atau meneruskan studi lanjut. Karena hal tersebut akan mendorong para dosen meraih gelar Doktor atau Profesor,” imbuh Ali. (sumali/wsn)