Dilansir melalui laman resmi Magister Ilmu Hubungan Internasional (MIHI) Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), MIHI  kembali menyelenggarakan kegiatan Lecture Series pada hari Kamis, (2/1) di Study Hall MIHI Lantai 2 Gedung Pascasarjana UMY. Adapun tema yang dibahas yaitu “Kuala Lumpur Summit dan Masa Depan Dunia Islam”.

Menurut Dr. Surwandono, S.Sos., M.Si yang merupakan pembicara dalam diskusi akademik terbatas kali ini, bahwa saat ini di dunia Islam mengalami Perang Dagang dan Perang Siber. Berdasarkan penelitian beliau menjelaskan bahwa negara paling damai nomor satu di dunia adalah Islandia. Kemudian indeks teknologi tertinggi adalah negara Swedia, kedua adalah Singapura, ketiga adalah Amerika Serikat, dan keempat adalah Denmark. Dalam aspek ini, tidak ada dari dunia Islam yang masuk dalam kategori menggembirakan.

Di dalam dunia Islam, Qatar adalah negara yang dikucilkan oleh Arab Saudi dan sekutunya di kawasan ini. Arab Saudi sebagai negara besar yang ada di Dunia Islam adalah promotor Organisasi Konferensi Islam (OKI). Namun, OKI saat ini dipandang hanya sebagai sarana Arab Saudi untuk mempertahankan hegemoninya. Negara-negara yang menjadi patron utama di dalam dunia Islam yang pertama adalah Arab Saudi. Kedua adalah Mesir sebagai sumber berbagai munculnya gerakan dan pemikiran. Ketiga adalah Iran dengan teknologinya yang maju. Kemudian yang akan menjadi patron baru dalam dunia Islam adalah Malaysia dengan ekonominya, Turki dengan kematangan diplomasinya, dan Qatar sebagai negara kecil yang memiliki stabilitas politik. Erdogan sebagai pemimpin Turki memiliki keahlian diplomasi yang sangat baik.

Qatar ialah negara yang pernah diembargo oleh negara-negara tetangganya. Akan tetapi, dia tetap stabil. Ekonomi Qatar tidak goyah sama sekali, bahkan pendapatan perkapitanya cenderung stabil. Dalam masa embargo tersebut, Qatar sangat aktif dalam menyelesaikan konflik. Selama Arab Saudi mengembargo Qatar, Qatar menjalin hubungan dekat dengan Turki dan Iran. Dari seluruh negara yang ada di Dunia Islam, Qatar memiliki indeks demokrasi yang paling baik.

lebih lanjut ia menuturkan bahwa  Islamic Summit yang diselenggarakan oleh Malaysia dipandang kurang produktif. Kata lain dari Islamic Summit adalah Kuala Lumpur Summit. Dalam kegiatan tersebut, dihadiri oleh para scholars dan organisasi, bukan para politisi atau wakil pemerintah. Hal itu dipandang hanya sebagai ajang akademik saja. Kuala Lumpur Summit ini digagas oleh Mahathir Mohammad. Islamic Summit ini tidak begitu “menggelora” karena memang Arab Saudi terkesan mensabotase forum ini sebab dianggap sebagai tandingan atau menegasikan OKI yang ‘dipimpin’ oleh Arab Saudi.

Beberapa pengamat juga memandang kegiatan hanyalah sebuah politik domestik yang diinternasionalisasi oleh Mahathir Mohammad untuk menyingkirkan kembali Anwar Ibrahim. Oleh sebab itu, Kepala program studi MIHI ini memandang bahwa kegiatan ini tidak berhasil. Adapun Kuala Lumpur Summit ini dipandang dapat meluaskan perpecahan di Dunia Islam. Sehingga kita tidak bisa berharap besar bahwa forum ini akan menjawab persoalan yang dihadapi oleh dunia Islam saat ini.

Acara diskusi akademik terbatas ini juga dihadiri oleh beberapa dosen dari prodi Ilmu Hubungan Internasional seperti Sidiq Ahmadi, S.IP., M.A., Zahrul Anam, S.Ag., M.Si., dan Ali Maksum, S.Sos., M.A., Ph.D., dan Dr. Ahmad Sahide, S.IP., M.A.