Social Science Religion and Humanities

Juli 13, 2019 oleh : adminpasca

Diberitakan melalui laman resmi Politik Islam-Ilmu Politik, Prof. Nelly van Dorn Harder dari Wake Forest University Amerika Serikat mengungkapkan bahwa seorang peneliti atau orang berpendidikan harus memiliki pandangan luas  dan bukan terbatasi oleh salah satu ilmu saja. Hal ini diungkapkan dalam acara “1st International Conference of Graduate Program (ICGP) “Social Science Religion and Humanities” di Ruang Amphiteathre Lantai 4 Gedung Kasman Singodimedjo Kampus Terpadu UMY, Jumat (5/7).

“Ketika Anda belajar di lingkungan Muhammadiyah, jangan ragu untuk mempelajari apa yang ada di Nahdlatul Ulama. Apalagi masih satu agama, karena bagi seorang researcher haruslah memiliki kacamata yang gunanya untuk memiliki pandangan luas bukan untuk membedakan tapi menangkap pelajaran yang baik dari kedua organisasi tersebut,” tambah van Dorn Harder.

Assoc Prof. Bilveer Singh, Ph.D.,  dosen National University of Singapura mengemukakan pandangannya tentang Religion and Radicalism. Dia menyebut radikalisme terjadi karena ada sekelompok orang yang haus akan kekuasaan.

”Untuk apapun alasannya radikalisme, ekstrimisme tidak diperbolehkan dimanapun berada. Sejauh ini, radikalisme selalu identik ditujukan kepada agama tertentu, meski sebenarnya tidak. Saya sudah melakukan penelitian dengan berinteraksi langsung dengan beberapa narapidana terorisme untuk mengumpulkan data, bagi saya Pancasila merupakan ideologi yang sangat kuat dan pas di Indonesia. Itulah yang harus terus dipelajari agar nilai radikalisme atau semacamnya bisa hilang,” tandasnya.

Ia pun menegaskan bahwa  selama ini jika ada tindakan penyerangan baik itu dengan senjata atau membunuh seseorang oleh sekelompok orang, jika dia tidak menggunakan atribut agama akan dicap di media sebagai orang gila. “Faktanya selama ini ketika seorang melakukan penyerangan tidak mengenakan atribut agama apapun akan disebut pemberontak biasa atau orang gila, namun berbeda ketika orang itu menggunakan atribut salah satu agama pasti akan langsung dicap terorisme.” ungkap Bilveer.

Pada akhir persetasinya lebih lanjut dia menuturkan  sebuah analogi  “Contohnya seperti ini, ketika Anda memiliki sistem imun atau antibody yang kuat, tentu saja penyakit akan sukar datang ke tubuh kita. Jadi, bayangkan radikalisme sebuah penyakit, obat atau antibody untuk menyerangnya adalah agama dan ideologi yang kuat seperti di Indonesia (Pancasila),” tukasnya.